[backsound: exo - Black Pearl]
Kini
sang kakak menepuk bahu adiknya, sebuah simbol di tangannya menyala berwarna
biru.
“jaga diri baik-baik!” sang adik hanya diam saja. Si
kakak pergi menjauh membawa tasnya.
***
Bruk bruk bruk!!
“WOY SINI LO!!”
Kumpulan
gangster itu mengejar pria bermata sipit itu. Pria itu terus berlari memasuki
lorong-lorong, pria itu berlari sangat gesit berlari memanjat tembok, menaiki
sebuah pabrik yang sudah tak terpakai dan loncat dari atasnya.
Kumpulan
gangster yang jumlahnya sekitar 12 orang itu terus mengejar pria bermata sipit
itu, entahlah . . . dari siang sampai malam menjelang mereka masing dengan aksi
kejar-kejaran.
***
Seorang
gadis merenggangkan otot-ototnya, diatas sebuah bangunan itu ia ketiduran
dengan sebuah buku dipangkuannya, “aish, udah malem. Pantesan dingin. Lama juga
gue ketiduran haha” ucapnya.
Gadis
itu merapikan kembali bukunya dan memasukannya kedalam tas sekolahnya. Ia turun
dari atap bangunan tua itu melalui tangga besi yang ada disana. Jalanan malam
hari sudah mulai sepi, hanya ada lampu penerang jalan yang tampaknya sudah
minta untuk diganti, lampu itu berkedip menadakan akan mati.
Gadis
itu kebingungan, sampai tiba-tiba ada seseorang membekap mulutnya dan
menyeretnya ke sisi bangunan itu. ‘penculikan!’ pikirnya. Hampir ketakutan,
ternyata pria itu bukan akan menculiknya, segerombolan gangster lewat di sisi
lain bangunan. Gadis itu memegang tangan putih yang membekap tubuhnya, sebuah
simbol menyala dari punggung tangan orang itu.
Gadis
itu menjauh dari dekapan orang misterius itu dan melihat wajahnya dari
kegelapan malam, kemudian orang misterius itu lari.
***
[backsound: exo - don't go]
Pagi
hari kelas cukup ramai dengan aksi candaan para siswa dan siswi.
Pluk!
“heh siapa nih yang lempar pesawat kertas ke gue?” kata
lelaki berkulit sawo matang.
“gue yo, sorry mamen, peace”
“wah songong nih lintar! Sini lo”
Ada
juga Gabriel yang memukul-mukul pelan lengan ray untuk melatih tangannya,
“sakit gak?”
“sakit lah bro, lo kan jago berantem. Jangan gue apa
yang jadi bahan percobaan, deva kek, lintar, dayat, kiki atau shilla tuh kalo
perlu” kata ray setengah meringis.
“haha, maaf bro. tapi kayaknya kalo shilla gak bakal gue
pukul, tar dia mah nangis hahaha” tawa Gabriel, shilla yang mendengarnya hanya
menggeleng melihat tingkah teman-temannya.
“Attention, please!”
Semua
murid langsung duduk ditempat masingmasing mendengar suara berat itu yang tak
lain adalah suara gurunya. Sang guru membawa seorang murid, berkulit putih,
bermata sipit, berambut pirang dan bergaya harajuku.
“bro, itu bukannya cowok yang dikejar gangster SMA
Javelin ya?” bisik ray pada Gabriel. Begitupun murid-murid lainnya seperti rio,
deva, kiki, dayat, dan lintar. Mereka memang melihat pria yang disamping
gurunya itu berlari sendrir saat dikejar para gangster SMA Javelin.
“kayaknya iya, mirip banget”
“saya Alvin Jonathan” katanya.
“Alvin, kamu duduk di sebelah sana” kata pak guru
menunjukkan bangku kosong disebelah seorang gadis.
Saat
duduk dikursinya, Alvin menoleh ragu ke arah gadis yang duduk disebelahnya,
gadis itu juga menatap Alvin dengan wajah datar. Alvin kaget ternyata yang duduk di sebelahnya adalah gadis yang semalam ia temui.
***
Hari-hari
mereka lakukan bersama, bermain futsal, adu kekuatan. Dan ternyata Alvin memang
jago di segala bidang membuat Gabriel, rio, ray, deva, shilla dan kawan-kawan
senang dengan keberadaan Alvin.
Sampai
malam menjelang, semua siswa SMA Athalv pulang, memang sekolah itu pulang
sampai jam 8 malam. Itu selalu dilakukan jika ada ujian minggu depannya.
Alvin,
Gabriel, rio, deva, ray dan lainnya berjalan bersama mengantar shilla ke sebuah
halte yang ternyata sudah ada bus berhenti disana jadi tak perlu menunggu lama
lagi.
“bye shilla”
kata Gabriel sambil melambaikan tangannya.
“hati-hati ya” ucap dayat.
Sedangkan
Alvin hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Kedelapan pria itu, Alvin,
Gabriel, rio, deva, ray, kiki, dayat da lintar berbalik dan meninggalkan bus
yang masih menunggu penunmpang lain itu.
Tak
lama didalam bus, shilla merasakan hal yang tidak enak akan terjadi, ia turun
dari bus dan mencari keberadaan teman-temannya.
***
Di
jalan pulang, Alvin dkk dijegat oleh sekumpulan gangster yang saat itu mengejar
Alvin. Ketua dari kumpulan gangster itu maju, dengan keberanian penuh Alvin
maju menghadapi sang ketua gangster itu. Ketua gangster itu atau lebih akrab di
sapa irsyad mendorong bahu Alvin.
Irsyad
adalah gangster dari SMA Javelin, anak yang sangat tidak tau aturan dan sering
sekali mencari masalah dengan SMA Athalv.
Ray
mendekati Alvin dan memegang bahu temannya, keduanya mengangguk. Irsyad
tersenyum dan pergi menuju sebuah gudang kardus yang sudah tak terpakai.
“kita bisa!” kata Alvin.
***
[backsound: exo – wolf]
Alvin
mendobrak pintu gudang, bagai sang ketua Alvin berjalan duluan diikuti
teman-temannya. Aksi pukul memukul dimulai, Gabriel dan rio yang memang ahli
dalam berkelahi paling banyak menghadapi beberapa gangster.
BRUK
BUGH
PRAK
Alvin
mengangkat kerah si ketua gangster dan mendorongnya kasar. Perkelahian kurang
lebih 15 menit. Alvin jatuh terdorong, ia melihat teman-temannya juga jatuh
tersungkur, ada rio yang dipukuli habis-habisa, deva yang ditonjok perutnya
berkali-kali, Gabriel yang dihantam oleh sebuah kayu.
Alvin
kebingungan, bagaimana ia harus menyelamatkan teman-temannya yang sedang
dihabisi itu.
Srrttt!!
Sebuah
simbol di punggung tangan Alvin menyala berwarna biru, mata Alvin merah
begitupun pandangannya semua terlihat merah, kesadarannya tak terkendali.
“HHHRRGGGGGHHH” erang Alvin layaknya srigala, dengan
sekali pukulan gangster-gangster disekitar Alvin terlempar jauh.
BRUK
BUGH
Ray
yang melihat itu langsung menghampiri Alvin, ‘dia gila!’ pikir ray, ia harus
menghampiri Alvin, pertarungan ini bukan untuk menghabisi nyawa.
Ray
mendekati Alvin yang sedang tak terkendali itu, “vin!”
BRAKKK!!!
Alvin
mendorong ray hingga terlempar jauh dan jatuh di tumpukan kardus dan kayu-kayu.
“hah?” kesadaran Alvin kembali. Ia melihat ray yang
terlempar olehnya. Ia terdiam.
Teman-temannya
menhampiri ray yang tersungkur di tumpukan kayu dan kardus itu, wajahnya sudah
babak belur akibat hantaman dari para gangster yang sekarang sudah pergi dari
gudang itu dan bekas pukulan Alvin.
Gabriel
menghampiri Alvin dan tersenyum sinis pada Alvin, ia berjalan melewati Alvin
dan menabrak bahu Alvin kasar begitupun teman-temannya yang menatap Alvin tajam
dengan membantu ray yang sulit berjalan itu.
Kini
Alvin terdiam sendirian di gudang itu, tubuhnya ambruk, ia terduduk dan
menyesali apa yang ia lakukan secara tidak sadar itu. Ia menunduk, simbol di
tangannya menyala kemudian mati.
Seseorang
datang menghampiri Alvin yang tertunduk, Alvin yang menyadari itu melihat
sepasang sepatu sudah dihadapannya, ia pun mendongak.
“apa?”
“siapa?”
“siapa kamu sebenarnya?”
Tanya
orang itu, gadis itu, tepatnya shilla ia datang saat Alvin mulai tak terkendali
dan memukul ray begitu saja hingga terlempar jauh, seperti bukan manusia.
***
Sore
hari disekolah, dengan wajah yang masih lebam, Gabriel dan kawan-kawan asik
bercanda tapi tidak dengan kehadiran ray yang masih dirawat dirumahnya. Begitu
juga Alvin yang semenjak kejadian di gudang itu tak pernah memunculkan diri
lagi.
Shilla
diam saja, masih memikirkan apa yang ia lihat kemarin.
“shill, ikut jenguk ray gak?” kata kiki.
“ah? iya”
***
Alvin
termenung di kamarnya sambil memegangi perutnya yang sakit dan memandangi foto dirinya dan kakaknya sebelum pergi dan
melihat simbol di tangannya dan kakaknya, “kenapa gue juga harus ada?”
“arrghh” Alvin pergi dari kamarnya.
***
Seperti biasa mereka selalu
bergurau. Tapi shilla, ia melihat Alvin sedang memperhatikan mereka diluar dari
jendela kamar ray yang terbuka lebar itu. Shilla langsung memandang ke arah
lain dan menghiraukan keberadaan Alvin.
“kapan masuk sekolah ray?”
“besok gue udah masuk kok shill,” kata ray.
“oke, kita balik dulu ya ray, hari udah mulai gelap nih”
kata rio.
“sip brother, see
you tomorrow” kata ray.
***
[backsound: exo – baby don’t cry]
“hati-hati shill pulangnya, bye” kata deva diikuti yang lain lalu pulang, memang rumah Gabriel
dkk berbeda arah dengan rumah shilla.
Dijalan pulang, shilla
melihat Alvin sedang bersandar di tembok bangunan sambil memegangi perutnya
dengan luka lebam di dekat mata dan ujung bibirnya, kemudian Alvin pergi dari
situ dengan susah payah karena menahan sakit di perutnya.
BRUKKH
Alvin
terjatuh, shilla yang berjarak tak jauh dari Alvin langsung menghampiri Alvin.
“vin? Alvin?!”
***
Shilla
menunggu Alvin yang masih belum sadarkan diri di kamar Alvin, ia melihat sebuah
foto, ia kenal dengan foto yang ada disana, Alvin dan seseorang.
Alvin
membuka matanya, ia melihat keberadaan shilla di sebelahnya.
“shilla?”
“Alvin, ini gue buatin bubur” shilla mengambir mangkuk
yang ada di meja kamar Alvin yang sudah ia buatkan tadi.
Alvin
hanya tersenyum menanggapi perhatian shilla.
Taklama
kemudian, Alvin mengantarkan shilla kedepan rumahnya, sudah ada Gabriel
menunggu didepan.
Ckrek!
Gabriel
menatap Alvin sinis, ‘masih aja lo deketin salah satu dari kita’ seolah
mengerti arti tatapan Gabriel, Alvin hanya diam saja.
***
“ini, gadis ini, teman para musuh kita. Kita jadikan
gadis ini umpan” kata irsyad menunjukkan ponselnya pada teman-temannya. Ia
sengaja mengikuti Alvin tadi dan melihat Alvin bersama seorang gadis yang
mungkin sangat berarti bagi Alvin apalagi tadi juga ada Gabriel yang terlihat tidak
suka gadis itu bersama Alvin.
“besok malam kita mulai”
***
[backsound: exo – growl]
Ya,
malam ini, shilla berjalan sendiri kerumahnya, “hmmpph . . . hmppmp”
Benar
saja apa yang direncanakan irsyad, ia membekap mulut shilla dan membawanya ke
gudang besar. Bagi shilla sangat menakutkan ada sedikit api yang dinyalakan
disetiap sudut gudang. Shilla sudah bersama riko ditengah-tengah gudang dengan
tiga motor besar memutari mereka.
Irsyad
menelfon Alvin, “halo alvin”
“boleh gak gue main-main sama cewek cantik berambut
panjang yang kemaren sama lo itu?” kata irsyat sambil mengelur pipi shilla
dengan ujung jarinya.
“shilla? . . . HEH
PENGECUT! JANGAN MACEM-MACEM LO SAMA SHILLA!”
“kalo lo mau gadis lo ini selamat, datang ke gudang di
Collins Ave, tapi ingat . . . sendirian”
***
BRAKKKK
“lepasin dia!”
“lo lawan dulu anak buah gue, serang dia!” perintah
irsyad.
BRAK
BRAK
BRUK
BUGH
Alvin
melawan 11 orang sendiri, shilla ambil tindakan. Selagi irsyad asik
memperhatikan Alvin, shilla mengambil ponselnya dan menelfon Gabriel.
***
Drrt…drrtt
Gabriel
mengangkat telfon dari shilla, “halo shilla ada apa?”
BRAK
BRUK
BUGH
“ARRGGHHH”
Gabriel
paham maksud shilla menelfonnya, ia mendengar erangan Alvin dan beberapa
pukulan dari ponselnya. Ia langsung menelfon teman-temannya dan pergi ke gudang
itu. Ia tau dimana gudang itu berada.
***
BRAKKK
“WOY IRSYAD! DASAR PENGECUT, BERANINYA ROMBONGAN NGELAWAN
SATU ORANG!” teriak ray dari arah pintu.
Irsyad
melihatnya hanye tersenyum sinis kea rah ray dan teman-temannya.
“HABISI MEREKA SEMUA!” teriak irsyad.
Aksi
saling memukul terulang lagi, seperti biasa Gabriel dan rio memang paling
banyak menghadapi para gangster gila itu.
“ALVIN!” Alvin menoleh, ia melihat irsyad menyodorkan
pisau ke leher shilla dengan satu orang disebelah Gabriel yang ikut menyodorkan
pisau ke urat nadi shilla.
Alvin
berlari ke arah shilla, ia mencengkram bahu orang disebelah irsyad, simbol di
tangannya menyala lagi, pandangannya hampir tak terkendalikan lagi, tapi Alvin
menoleh ke arah shilla dengan tatapan sayu.
BRAKK
“ARRGGHHH” simbol di tangan Alvin mati.
“PERGI DARI SINI!” koor irsyad.
“Alvin!” shilla menahan tubuh Alvin yang tersungkur
akibat di pukul keran dibagian tengkuknya.
“alvin sadar vin!” kata rio yang kini sudah mengerubungi
Alvin bersama yang lain.
“al . . . vin, hiks” tangis shilla, airmatanya jatuh
tepat di tangan Alvin mengenai simbol itu. Simbol di tangan Alvin menyala dan
menghilang. Rambut pirang Alvin berubah menjadi hitam, mata Alvin terbuka.
***
Pria
itu memasuki sebuah kamar yang beberapa minggu ini dia tinggal, “ada apa ini?”
simbol di tangannya menyala, ia paham arti dari kilauan biru menyala pada
simbol di tangannya. Ia berdecak dan mengambil sebuah bingkai foto, foto
dirinya dan adiknya.
PRANGG
Ia
melempar foto itu sampai pecah berantakan, matanya memerah, wajahnya terlihat
marah.
To Be Continue / The End ?















No comments:
Post a Comment