Monday, September 16, 2013

WOLF


[backsound: exo - Black Pearl]

            Kini sang kakak menepuk bahu adiknya, sebuah simbol di tangannya menyala berwarna biru.
“jaga diri baik-baik!” sang adik hanya diam saja. Si kakak pergi menjauh membawa tasnya.



***


Bruk bruk bruk!!

“WOY SINI LO!!”

            Kumpulan gangster itu mengejar pria bermata sipit itu. Pria itu terus berlari memasuki lorong-lorong, pria itu berlari sangat gesit berlari memanjat tembok, menaiki sebuah pabrik yang sudah tak terpakai dan loncat dari atasnya.





            Kumpulan gangster yang jumlahnya sekitar 12 orang itu terus mengejar pria bermata sipit itu, entahlah . . . dari siang sampai malam menjelang mereka masing dengan aksi kejar-kejaran.



***


            Seorang gadis merenggangkan otot-ototnya, diatas sebuah bangunan itu ia ketiduran dengan sebuah buku dipangkuannya, “aish, udah malem. Pantesan dingin. Lama juga gue ketiduran haha” ucapnya.

            Gadis itu merapikan kembali bukunya dan memasukannya kedalam tas sekolahnya. Ia turun dari atap bangunan tua itu melalui tangga besi yang ada disana. Jalanan malam hari sudah mulai sepi, hanya ada lampu penerang jalan yang tampaknya sudah minta untuk diganti, lampu itu berkedip menadakan akan mati.



            Gadis itu kebingungan, sampai tiba-tiba ada seseorang membekap mulutnya dan menyeretnya ke sisi bangunan itu. ‘penculikan!’ pikirnya. Hampir ketakutan, ternyata pria itu bukan akan menculiknya, segerombolan gangster lewat di sisi lain bangunan. Gadis itu memegang tangan putih yang membekap tubuhnya, sebuah simbol menyala dari punggung tangan orang itu.




            Gadis itu menjauh dari dekapan orang misterius itu dan melihat wajahnya dari kegelapan malam, kemudian orang misterius itu lari.


***

[backsound: exo - don't go]

            Pagi hari kelas cukup ramai dengan aksi candaan para siswa dan siswi.

Pluk!

“heh siapa nih yang lempar pesawat kertas ke gue?” kata lelaki berkulit sawo matang.

“gue yo, sorry mamen, peace”

“wah songong nih lintar! Sini lo”

            Ada juga Gabriel yang memukul-mukul pelan lengan ray untuk melatih tangannya, “sakit gak?”

“sakit lah bro, lo kan jago berantem. Jangan gue apa yang jadi bahan percobaan, deva kek, lintar, dayat, kiki atau shilla tuh kalo perlu” kata ray setengah meringis.

“haha, maaf bro. tapi kayaknya kalo shilla gak bakal gue pukul, tar dia mah nangis hahaha” tawa Gabriel, shilla yang mendengarnya hanya menggeleng melihat tingkah teman-temannya.




Attention, please!”

            Semua murid langsung duduk ditempat masingmasing mendengar suara berat itu yang tak lain adalah suara gurunya. Sang guru membawa seorang murid, berkulit putih, bermata sipit, berambut pirang dan bergaya harajuku.

“bro, itu bukannya cowok yang dikejar gangster SMA Javelin ya?” bisik ray pada Gabriel. Begitupun murid-murid lainnya seperti rio, deva, kiki, dayat, dan lintar. Mereka memang melihat pria yang disamping gurunya itu berlari sendrir saat dikejar para gangster SMA Javelin.

“kayaknya iya, mirip banget”

“saya Alvin Jonathan” katanya.

“Alvin, kamu duduk di sebelah sana” kata pak guru menunjukkan bangku kosong disebelah seorang gadis.

            Saat duduk dikursinya, Alvin menoleh ragu ke arah gadis yang duduk disebelahnya, gadis itu juga menatap Alvin dengan wajah datar. Alvin kaget ternyata yang duduk di sebelahnya adalah gadis yang semalam ia temui.


***


            Hari-hari mereka lakukan bersama, bermain futsal, adu kekuatan. Dan ternyata Alvin memang jago di segala bidang membuat Gabriel, rio, ray, deva, shilla dan kawan-kawan senang dengan keberadaan Alvin.

            Sampai malam menjelang, semua siswa SMA Athalv pulang, memang sekolah itu pulang sampai jam 8 malam. Itu selalu dilakukan jika ada ujian minggu depannya.

            Alvin, Gabriel, rio, deva, ray dan lainnya berjalan bersama mengantar shilla ke sebuah halte yang ternyata sudah ada bus berhenti disana jadi tak perlu menunggu lama lagi.

bye shilla” kata Gabriel sambil melambaikan tangannya.

“hati-hati ya” ucap dayat.

            Sedangkan Alvin hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Kedelapan pria itu, Alvin, Gabriel, rio, deva, ray, kiki, dayat da lintar berbalik dan meninggalkan bus yang masih menunggu penunmpang lain itu.

            Tak lama didalam bus, shilla merasakan hal yang tidak enak akan terjadi, ia turun dari bus dan mencari keberadaan teman-temannya.




***


            Di jalan pulang, Alvin dkk dijegat oleh sekumpulan gangster yang saat itu mengejar Alvin. Ketua dari kumpulan gangster itu maju, dengan keberanian penuh Alvin maju menghadapi sang ketua gangster itu. Ketua gangster itu atau lebih akrab di sapa irsyad mendorong bahu Alvin.

            Irsyad adalah gangster dari SMA Javelin, anak yang sangat tidak tau aturan dan sering sekali mencari masalah dengan SMA Athalv.

            Ray mendekati Alvin dan memegang bahu temannya, keduanya mengangguk. Irsyad tersenyum dan pergi menuju sebuah gudang kardus yang sudah tak terpakai.

“kita bisa!” kata Alvin.


***


[backsound: exo – wolf]

            Alvin mendobrak pintu gudang, bagai sang ketua Alvin berjalan duluan diikuti teman-temannya. Aksi pukul memukul dimulai, Gabriel dan rio yang memang ahli dalam berkelahi paling banyak menghadapi beberapa gangster.

BRUK

BUGH

PRAK

            Alvin mengangkat kerah si ketua gangster dan mendorongnya kasar. Perkelahian kurang lebih 15 menit. Alvin jatuh terdorong, ia melihat teman-temannya juga jatuh tersungkur, ada rio yang dipukuli habis-habisa, deva yang ditonjok perutnya berkali-kali, Gabriel yang dihantam oleh sebuah kayu.

            Alvin kebingungan, bagaimana ia harus menyelamatkan teman-temannya yang sedang dihabisi itu.

Srrttt!!

            Sebuah simbol di punggung tangan Alvin menyala berwarna biru, mata Alvin merah begitupun pandangannya semua terlihat merah, kesadarannya tak terkendali.




“HHHRRGGGGGHHH” erang Alvin layaknya srigala, dengan sekali pukulan gangster-gangster disekitar Alvin terlempar jauh.

BRUK

BUGH

            Ray yang melihat itu langsung menghampiri Alvin, ‘dia gila!’ pikir ray, ia harus menghampiri Alvin, pertarungan ini bukan untuk menghabisi nyawa.

            Ray mendekati Alvin yang sedang tak terkendali itu, “vin!”

BRAKKK!!!

            Alvin mendorong ray hingga terlempar jauh dan jatuh di tumpukan kardus dan kayu-kayu.

“hah?” kesadaran Alvin kembali. Ia melihat ray yang terlempar olehnya. Ia terdiam.

            Teman-temannya menhampiri ray yang tersungkur di tumpukan kayu dan kardus itu, wajahnya sudah babak belur akibat hantaman dari para gangster yang sekarang sudah pergi dari gudang itu dan bekas pukulan Alvin.

            Gabriel menghampiri Alvin dan tersenyum sinis pada Alvin, ia berjalan melewati Alvin dan menabrak bahu Alvin kasar begitupun teman-temannya yang menatap Alvin tajam dengan membantu ray yang sulit berjalan itu.

            Kini Alvin terdiam sendirian di gudang itu, tubuhnya ambruk, ia terduduk dan menyesali apa yang ia lakukan secara tidak sadar itu. Ia menunduk, simbol di tangannya menyala kemudian mati.

Tap . . . tap . . . tap.




            Seseorang datang menghampiri Alvin yang tertunduk, Alvin yang menyadari itu melihat sepasang sepatu sudah dihadapannya, ia pun mendongak.

“apa?”

“siapa?”

“siapa kamu sebenarnya?”

            Tanya orang itu, gadis itu, tepatnya shilla ia datang saat Alvin mulai tak terkendali dan memukul ray begitu saja hingga terlempar jauh, seperti bukan manusia.


***


            Sore hari disekolah, dengan wajah yang masih lebam, Gabriel dan kawan-kawan asik bercanda tapi tidak dengan kehadiran ray yang masih dirawat dirumahnya. Begitu juga Alvin yang semenjak kejadian di gudang itu tak pernah memunculkan diri lagi.

            Shilla diam saja, masih memikirkan apa yang ia lihat kemarin.

“shill, ikut jenguk ray gak?” kata kiki.

“ah? iya”


***



            Alvin termenung di kamarnya sambil memegangi perutnya yang sakit dan memandangi foto dirinya dan kakaknya sebelum pergi dan melihat simbol di tangannya dan kakaknya, “kenapa gue juga harus ada?”

“arrghh” Alvin pergi dari kamarnya.


***


Seperti biasa mereka selalu bergurau. Tapi shilla, ia melihat Alvin sedang memperhatikan mereka diluar dari jendela kamar ray yang terbuka lebar itu. Shilla langsung memandang ke arah lain dan menghiraukan keberadaan Alvin.

“kapan masuk sekolah ray?”

“besok gue udah masuk kok shill,” kata ray.

“oke, kita balik dulu ya ray, hari udah mulai gelap nih” kata rio.

sip brother, see you tomorrow” kata ray.


***


[backsound: exo – baby don’t cry]

“hati-hati shill pulangnya, bye” kata deva diikuti yang lain lalu pulang, memang rumah Gabriel dkk berbeda arah dengan rumah shilla.

Dijalan pulang, shilla melihat Alvin sedang bersandar di tembok bangunan sambil memegangi perutnya dengan luka lebam di dekat mata dan ujung bibirnya, kemudian Alvin pergi dari situ dengan susah payah karena menahan sakit di perutnya.

BRUKKH

            Alvin terjatuh, shilla yang berjarak tak jauh dari Alvin langsung menghampiri Alvin.

“vin? Alvin?!”


***


            Shilla menunggu Alvin yang masih belum sadarkan diri di kamar Alvin, ia melihat sebuah foto, ia kenal dengan foto yang ada disana, Alvin dan seseorang.

            Alvin membuka matanya, ia melihat keberadaan shilla di sebelahnya.

“shilla?”

“Alvin, ini gue buatin bubur” shilla mengambir mangkuk yang ada di meja kamar Alvin yang sudah ia buatkan tadi.

            Alvin hanya tersenyum menanggapi perhatian shilla.

            Taklama kemudian, Alvin mengantarkan shilla kedepan rumahnya, sudah ada Gabriel menunggu didepan.

Ckrek!

            Gabriel menatap Alvin sinis, ‘masih aja lo deketin salah satu dari kita’ seolah mengerti arti tatapan Gabriel, Alvin hanya diam saja.





***


“ini, gadis ini, teman para musuh kita. Kita jadikan gadis ini umpan” kata irsyad menunjukkan ponselnya pada teman-temannya. Ia sengaja mengikuti Alvin tadi dan melihat Alvin bersama seorang gadis yang mungkin sangat berarti bagi Alvin apalagi tadi juga ada Gabriel yang terlihat tidak suka gadis itu bersama Alvin.

“besok malam kita mulai”


***


[backsound: exo – growl]

            Ya, malam ini, shilla berjalan sendiri kerumahnya, “hmmpph . . . hmppmp”

            Benar saja apa yang direncanakan irsyad, ia membekap mulut shilla dan membawanya ke gudang besar. Bagi shilla sangat menakutkan ada sedikit api yang dinyalakan disetiap sudut gudang. Shilla sudah bersama riko ditengah-tengah gudang dengan tiga motor besar memutari mereka.

            Irsyad menelfon Alvin, “halo alvin”

siapa ini” sahut Alvin dari sebrang sana.




“boleh gak gue main-main sama cewek cantik berambut panjang yang kemaren sama lo itu?” kata irsyat sambil mengelur pipi shilla dengan ujung jarinya.

shilla? . . . HEH PENGECUT! JANGAN MACEM-MACEM LO SAMA SHILLA!”

“kalo lo mau gadis lo ini selamat, datang ke gudang di Collins Ave, tapi ingat . . . sendirian”


***


BRAKKKK

            Alvin mendobrak pintu gudang itu, benar, ia melihat shilla di depakan irsyad!




“lepasin dia!”

“lo lawan dulu anak buah gue, serang dia!” perintah irsyad.

BRAK

BRAK

BRUK

BUGH

            Alvin melawan 11 orang sendiri, shilla ambil tindakan. Selagi irsyad asik memperhatikan Alvin, shilla mengambil ponselnya dan menelfon Gabriel.


***


Drrt…drrtt

            Gabriel mengangkat telfon dari shilla, “halo shilla ada apa?”

BRAK

BRUK

BUGH

“ARRGGHHH”

            Gabriel paham maksud shilla menelfonnya, ia mendengar erangan Alvin dan beberapa pukulan dari ponselnya. Ia langsung menelfon teman-temannya dan pergi ke gudang itu. Ia tau dimana gudang itu berada.


***


BRAKKK

“WOY IRSYAD! DASAR PENGECUT, BERANINYA ROMBONGAN NGELAWAN SATU ORANG!” teriak ray dari arah pintu.

            Irsyad melihatnya hanye tersenyum sinis kea rah ray dan teman-temannya.

“HABISI MEREKA SEMUA!” teriak irsyad.

            Aksi saling memukul terulang lagi, seperti biasa Gabriel dan rio memang paling banyak menghadapi para gangster gila itu.

            Alvin memukuli para gangster itu tanpa ampun.




“ALVIN!” Alvin menoleh, ia melihat irsyad menyodorkan pisau ke leher shilla dengan satu orang disebelah Gabriel yang ikut menyodorkan pisau ke urat nadi shilla.

            Alvin berlari ke arah shilla, ia mencengkram bahu orang disebelah irsyad, simbol di tangannya menyala lagi, pandangannya hampir tak terkendalikan lagi, tapi Alvin menoleh ke arah shilla dengan tatapan sayu.

BRAKK

“ARRGGHHH” simbol di tangan Alvin mati.

“PERGI DARI SINI!” koor irsyad.

“Alvin!” shilla menahan tubuh Alvin yang tersungkur akibat di pukul keran dibagian tengkuknya.

“alvin sadar vin!” kata rio yang kini sudah mengerubungi Alvin bersama yang lain.

“al . . . vin, hiks” tangis shilla, airmatanya jatuh tepat di tangan Alvin mengenai simbol itu. Simbol di tangan Alvin menyala dan menghilang. Rambut pirang Alvin berubah menjadi hitam, mata Alvin terbuka.


***
           

            Pria itu memasuki sebuah kamar yang beberapa minggu ini dia tinggal, “ada apa ini?” simbol di tangannya menyala, ia paham arti dari kilauan biru menyala pada simbol di tangannya. Ia berdecak dan mengambil sebuah bingkai foto, foto dirinya dan adiknya.

PRANGG

            Ia melempar foto itu sampai pecah berantakan, matanya memerah, wajahnya terlihat marah.

“HHHRRGGGHHH”






To Be Continue / The End ?

No comments:

Post a Comment